Selasa, 31 Januari 2012

Bob Marley, Reggae, dan Rasta

Seperti pada tahun sebelumnya, dalam rangka menyambut hari kelahiran Bob Marley, saya akan membagi beberapa artikel yang berkaitan dengan sosok legendaris tersebut. Semoga saja bisa menambah kecintaan kita kepada sosok pembesar reggae itu.
"Meski raganya mati, namun jiwanya akan selalu menyertai langkah kita semua" (Ucapan Bob Marley ketika Haile I Selassie wafat)

Bob Marley tentunya adalah bintang musik “dunia ketiga” pertama yang jadi penyanyi, grup Bob Marley & The Wailers, dan berhasil memerkenalkan reggae lebih universal. Meskipun demikian, reggae dianggap banyak orang sebagai warisan dari King of Reggae Music, Hon. Robert Nesta Marley. Ditambah lagi dengan hadirnya “The Harder they Come” pada tahun 1973, Reggae tambah dikenal oleh banyak orang. Meninggalnya Bob Marley kemudian memang membawa kesedihan besar buat dunia, terlebih para penggemar setianya, namun penerusnya seperti Freddie McGregor, Dennis Brown, Garnett Silk, Marcia Fiffths, dan Rita Marley serta kerabat keluarga Marley bermunculan. Rasta adalah jelas pembentuk musik Reggae yang dijadikan “senjata” oleh Bob Marley untuk menyebarkan teori ke-RASTA-an ke penjuru dunia. Musik yang luar biasa ini tumbuh dari SKA yang menjadi elemen style American R&B dan Carribean. Beberapa pendapat menyatakan juga pengaruh dari music Folk, music Gereja Pocomania, Band Jonkanoo, upacara-upacara petani, lagu kerja tanam, dan bentuk mento. Nyabinghi adalah bentuk music paling alami yang sering dimainkan pada saat pertemuan-pertemuan Rasta; menggunakan 3 drum tangan (bass, funde, dan repeater --- contoh ada di Mystic Revalation of Rastafari). Akar reggae sendiri selalu menyelamai tema penderitaan buruh paksa (ghetto dweller), budak di Babylon, Haile I Selassie (‘dewa’), dan harapan kembalinya kejayaaan Afrika. Setelah Jamaika merdeka 1962, buruknya perkembangan pemerintahaan dan pergerakan Black Power di Amerika yang kemudian memicu bangkitnya Rasta. Berbagai kejadian monumental pun terjadi seiring bergulirnya waktu.

Senin, 23 Januari 2012

Sebuah Rahasia Kecil (Part 8)

...

Sudah lima belas menit yang lalu pergantian jam pelajaran, namun guru pengajarnya belum juga kelihatan. Apakah beliau tidak dapat hadir di kelas karena ada urusan mendadak di luar? Aku tak tahu pasti. Yang pasti, saat-saat seperti ini --- tanpa guru di kelas --- menjadi momen yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Beberapa dari teman sekalasku memilih untuk berkumpul bersama teman sepermainan, dan ada pula yang mencoba memahami materi baru pelajaran kedua ini. Sedangkan aku sendiri memilih untuk tenggelam ke dalam lamunanku.
Aku memikirkan bagaimana caranya aku memberikan surat spesial kepadanya. Apa harus bertingkah macam ninja seperti dalam mimpiku semalam? Ah, terlalu dramatis dan kurang realistis. Dan seketika aku teringat tawaran dari Hani.
Untung Tursi dan Hani sedang berbincang-bincang membahas sinetron yang tengah mereka ikuti ceritanya. Dan tanpa basa-basi lagi langsung aku meminta bantuannya,” Han, bisa minta tolong gak?”
Ia menghentikan perbincangannya dengan Tursi dan bertanya,” Hmm..minta bantuan apa, Kri? Soal ehem-ehemmu yha?” Maksud dari ehem-ehem tak lain dan tak bukan adalah orang yang kutaksir.
Dengan sedikit ragu bercampur malu, aku mengatakan,” Iya, ada hubungannya ama pujaan hatiku, Han. Bisakah kiranya?”
“Beres, tenang ae awakmu, Kri. Semua masalah pasti tuntas kalau dikerjakno karo aku,” ujar Hani diikuti gerakan tangan kirinya yang menepuk dada.
“Turs, melamun aja dari itu,” sapaku. “Kamu kok diam ae sih? Gak kayak biasae. Biasae kan lek ketemua karo aku langsung memuntahkan rentetan kata. Tumben,” Aku heran dengan sikap Tursi akhir-akhir ini. Mungkinkah ia tengah sakit dan merahasiakan sesuatu? Aku tak tahu pasti.
Ia tak merespon pernyataanku dengan banyak kata,” Gak apa-apa, Kri. Lagi gak mood.” Lalu ia mengakhirinya dengan senyuman khasnya.
“Hmm.. Ngomong-ngomong arepe minta bantuan apa awakmu, Kri?” kata Hani dengan antusias.
Tak ingin kehilangan kesempatan, aku dengan cepat menjawab,” Tolong berikan surat ini untuk Dewi arek 7C, Han.” Lantas aku mengeluarkan sepucuk surat yang semalam aku buat.
Ia tampak diam sejenak.”Dewi? Sing cino iku tah?” tanya Hani untuk memastikan kebenaran praduganya. Dan aku mengangguk.
“Siap, entar pas istirahat langsung tak kasihin ke areke.”
Sebelum ia memasukkan surat spesial itu, aku berpesan padanya,” Han, tolong bilang ke areke ‘ada titipan dari arek 7F’. Kalian wis saling kenal tah?”
“Siap, bos.” Hani mengangkat jempolnya. “Sebenare awakku mek eroh tok areke sing ndhi, tapi rung pernah kenalan. Areke sisan pasti rung eroh awakku,” ujar Hani dan menutupnya dengan tawa khasnya.

...

Sebuah Rahasia Kecil (Part 7)

...

Aku bergegas kembali menuju ruang kelasku. Namun belum aku melewati pintu, aku tersandung sendiri oleh langkahku. Dan aku terjatuh ke dalam sebuah ruang hampa serba hitam. Aku persis seperti Alice yang terjatuh menuju Wonderland. Terjatuh dengan waktu tempuh yang cukup lama untuk menyentuh dasar. Dan sebelum aku menyentuh dasar, kilatan cahaya putih menyilaukan mata sampai membuat aku buta sesaat dibuatnya.

Di saat aku membuka mata, aku tertegun. Aku kembali ke ruang tidurku! Aku mendapati aku masih berada di atas spring bed biruku.

Aku perlahan mendudukkan badanku sembari berkata,“ Sial, ternyata peristiwa itu hanya sebuah mimpi. Sayang sekali, coba aja itu benar-benar terjadi.”

Dan seperti biasa, aku memulai hari ini dengan menghadap diri kepada Illahi.

*******

Pintu gerbang SMP-ku berukuran cukup besar dengan sebuah gapura yang cukup gagah berdiri. Satpam penjaga selalu ada di dekat salah satunya ketika pagi hari.

Cuma sekedar info, satpam atau lebih tepatnya penjaga SMP-ku seluruhnya berjumlah 3 orang. Jadi masalah keamanan dan ketertiban bukan masalah buatku. Awalnya aku berpikir demikian; sampai suatu hari jaket oranye pemberian ibuku tertinggal di kelas, dan ketika kutanya kepada mereka bertiga tidak ada yang melihat. Dari rumor yang aku terima, salah satu di antara mereka menjadi penadah seluruh barang-barang yang tertinggal di kolong meja. Aku tak tahu kebenaran berita itu.

Hari ini aku datang lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Udara masih terasa sejuk. Belum banyak polusi yang mengotorinya.

Mata pelajaran pertama hari ini adalah bahsa inggris. Mata pelajaran yang paling aku suka. Hal ini dikarenakan selain memang aku suka dengan bahasa inggris, pengajar di kelasku masih muda dan belum menikah. Umurnya sekitar 25-an dan namanya adalah Isnia Rahmawati, panggilan di kelasnya Miss Nia. Wajahnya cantik dan khas para etnis tionghoa bermata sipit, keelokan rupanya itu ditambah sepasang lesung pipi ketika ia tersenyum. Sungguh beruntung aku bisa diajar beliau.

“Good morning, class,” Miss Nia menyapa dengan nada yang terdengar lembut di telinga.

Seluruh kelas pun membalas,” Good morning, miss”

“Okay, class, our lesson for today is Simple Present,” Miss Nia mulai menulis beberapa kata yang ia contoh dari bukunya. Dan itu merupakan rumus untuk simple present.

Sungguh menyenangkan apabila diajar oleh guru yang mampu membawa suasana belajar terasa menyenangkan, terlebih tampilan yang sedap dipandang mata.

Tanpa terasa dua jam sudah berlalu begitu saja.

“Well, I think that’s enough for today, class,” tutup Miss Nia sembari merapikan seluruh barang bawaannya. “Don’t forget to do your assignment for tomorrow. See you.”

Miss Nia berjalan meninggalkan kelas. Setiap langkah kakinya mengisaratkan bahwa ia perempuan yang anggun dengan kegigihan tiada tara. Rasanya terlalu cepat kebersamaan kami bersama Miss Nia. Dan tak sabar rasanya ingin segera bertemu hari esok.

Sudah lima belas menit yang lalu pergantian jam pelajaran, namun guru yang pengajarnya belum juga kelihatan. Apakah beluau tidak dapat hadir di kelas karena ada urusan mendadak di luar?


...

Sebuah Rahasia Kecil (Part 6)

...

Aku kian dihadapkan kepada lapisan-lapisan dilema selanjutnya. Semua dilema itu membuat kepalaku ingin pecah untuk menganalisanya. Otakku pasti tercecer dimana-mana kalau aku terlalu memaksakan diri melakukannya. Aku pun cukup diam dan tak mau ambil resiko, dan memersilahkan sosok dalam cermin itu mencari solusi.

Suatu malam, ketika aku kembali bertemu dengan sosok dalam cermin itu, ia mengatakan ada ide untukku. Namun ia membutuhkan beberapa saat untuk kembali mengingat-ingat gagasan yang ia dapatkan siang tadi. Jarum jam kamarku kini terlihat berputar. Sudah hampir 1 jam berlalu, tapi ia tetap saja membisu seakan kehilangan permata yang ditemukannya tadi siang. Rasa kantuk mulai menggodaku untuk segera menuju tempat tidur yang terlihat lebih empuk dari biasanya. Aku tak kuat lagi menahan rasa kangenku terhadap bantal dan gulingku. Mungkin besok ia akan mampu memberitahukannya padaku.

Di saat aku hendak melangkah meninggalkan cermin, ia mencegahku.

“Tunggu! Jangan pergi dulu! Aku sudah ingat kembali ide yang tadi siang aku dapatkan!” Ia tampak merapikan pakaiannya dan berdehem sekali tanda ia akan mengatakan sesuatu yang penting. Ia terlihat telah siap mengatakannya. “Mengapa kamu tidak coba mengutarakan perasaanmu itu secara tulisan kalau kamu merasa tidak mampu secara lisan, Kri?”

“Secara tulisan?” Aku sedikit kurang paham dan kembali bertanya,” Maksudmu seperti menulis surat padanya?”

“Ya salah satunya. Apa salahnya mencoba. Walaupun mungkin memberi kesan kurang gentle, tapi setidaknya kamu telah menunjukkan keberanianmu sebagai lelaki,” tukasnya mantap.

Perkataannya itu sanggup membuat tidurku lebih indah dari sebelumnya.

*******

Besok malamnya, semenjak pukul 09.00 tadi, setelah sembahyang, aku telah duduk terpaku di hadapan secarik kertas putih polos berukuran A4. Bolpen yang tergeletak di sebelahnya sama sekali belum tersentuh olehku. Menulis surat untuk seseorang yang spesial ini aku rasa jauh lebih susah dibanding ketika aku harus surat-menyurat dengan Tursi ataupun Ulul. Pikiranku stagnan dan seperti tak ada sekatapun yang mau melintas di depannya.

Lagu reggae dan lagu-lagu bernuansa cinta lainnya sedari tadi berotasi menemani kemacetan pikiranku. Dan ketika jam menunjukkan pukul 09.20, tiba-tiba ide segar mengalir seperti darah membawa oksigen ke otakku. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, segera aku tulis apa yang ada dalam pikiran dan perasaanku.

Aku pun membubuhkan sebuah puisi di lembar berikutnya. Sepertinya telah siap segala urusan, tinggal memasukkan ke dalam sebuah amplop. Celakanya aku lupa persediaan amplopku telah habis sebulan yang lalu. Tak habis akal, aku mengambil selembar A4 yang ke-3, dan membuat sebuah amplop sederhana darinya.

Kugambar sebuah ilustrasi seorang gadis jelita yang tak lain-tak bukan adalah Dewi, dan seorang pria yang menggambarkan sosokku pada bagian depan amplop. Di antara kedua sosok manusia itu tertulis dengan indah: Teruntuk Dewi Permata Sari, hurufnya pun dengan susah payah aku tulis menyerupai gaya tulisan roman-roman Eropa. Elegan dan sarat dengan romance.

Sebelum aku mengirimkan surat itu padanya, aku semprot minyak wangi di kedua sisi amplop itu. Keadaanku saat itu benar-benar terinfluens oleh tayangan di televisi yang sering aku lihat. Ah, beginilah rasanya jatuh cinta? Kemudian aku pun tersenyum sendiri membayangkan apa jadinya ketika surat ini kulayangkan padanya.

Pukul 06.30, aku berangkat dengan sejuta ketidakpastian atas hal-hal yang akan terjadi pada hari ini. Terlebih terdapat sepucuk surat spesial di dalam ransel. Matahari mulai menghangatkan hati dan jiwaku, juga hatiku.

Rencananya, di saat istirahat nanti, aku bergerak seperti ninja untuk masuk ke kelasnya, dan menyelipkan surat itu ke dalam tasnya. Dan sewaktu di rumah nanti, ia akan terkejut ketika menemukan benda asing bersemayam di dalam tas merah mudanya. Benar-benar sempurna

Bel tanda waktu istirahat suaranya terdengar dari speaker di pojok kanan atas ruang kelas. Waktunya menjalankan rencana.

Ah, akhirnya datang juga waktu untuk menyuratkan isi hatiku.Aku meninggalkan kelasku tanpa sepengetahuan keempat sahabatku, dan segera menuju kelas 7C yang berada di lantai 2.

Waktu terasa begitu lambat bergeraknya. Tatapan semua orang mengisyaratkan kecurigaan dari gerak-gerikku, berharap aku tertangkap basah. Butiran-butiran peluh membawa kegugupanku keluar dari jiwa-ragaku. Di setiap langkah kakiku, aku merasakan terjadi pertempuran, antara rasa cemas dan optimis, di dalam kepalaku. Tapi aku tak mau terlalu jauh terbawa kecemasanku. Bila aku dapat melihat kondisiku saat ini, mungkin aku terlihat seperti jiwa yang berada di padang mahsyar. Menanti keputusan akhir Tuhan, apa aku akan menjadi salah satu penghuni surga atau neraka.

Tangga yang aku lewati pun terasa bertambah anaknya. Rasanya lantai 2 telah berpindah ke lantai 20. Massa tubuhku pun naik dengan seketika.

Setelah melalui berbagai fatamorgana itu, akhirnya berhasil juga aku menginjakkan kaki pertamaku di lantai dua. Segala ‘kepalsuan’ itu seketika hilang. Semua kembali berjalan apa adanya, kembali berjalan normal.

Setelah aku pastikan bahwa Dewi tidak lagi ada di dalam kelas, aku mulai mengendap-endap.

Sialnya tak sepenuhnya kosong. Ada dua orang tengah asyik bermain gadget mereka di pojokan kelas. Setelah mempertimbangkan keadaan, ternyata situasi dan kondisi masih berpihak padaku.

Aku lebih menjinjitkan kedua kakiku agar tak menimbulkan suara sama sekali. Dalam tradisi sini, gerakanku tak lebih dari maling yang tengah menyatroni rumah orang.

Perlahan namun pasti, aku berhasil mencapai target sasaranku. Bangku tempat Dewi duduk.

Aku membuka risleting tas ransel itu dengan hati-hati sampai tak terdengar bunyi senada pun. Kukeluarkan surat spesial itu dari dalam saku celanaku, dan dalam hitungan sepersekian detik surat itu telah terselip di antara buku catatannya. Dan kupastikan misiku ini berhasil.

Aku bergegas kembali menuju ruang kelasku. Namun sebelum aku melewati pintu, aku tersandung sendiri oleh langkahku. Dan aku terjatuh ke dalam sebuah ruang hampa serba hitam. Aku persis seperti Alice yang terjatuh menuju Wonderland.

...

Sebuah Rahasia Kecil (Part 5)

...

Mengapa ada air mata yang siap terteteskan di balik setiap tawa? Mengapa harus ada kebencian ketika cinta itu sejatinya indah? Mengapa Tuhan menciptakan sebuah pertemuan jika pada akhirnya digariskan untuk berpisah? Mengapa ada hitam di saat kita tahu bahwa putih itu warna yang menyenangkan untuk dipandang?

Setiap apa yang terjadi dalam hidup ini pasti berlaku sebuah hukum karma. Dimana setiap apapun yang kita lakukan dan terima, kelak suatu saat kita akan mendapatkan konsenkuensinya. Seluruhnya dipertanggungjawabkan, tak ada yang mampu merubah takdir yang telah digariskan di kedua telapak tangan kita.

Cinta itu memang indah. Akan tetapi di kala seseorang ditinggal yang dicinta, akan meninggalkan kepedihan dan kesedihan yang mendalam. Cinta itu memang sesuatu yang menyenangkan untuk dinikmati. Namun sewaktu cinta itu terasa tak lagi ada seluruhnya berubah menjadi dua kali dari sebelumnya. Menjadi jauh lebih membosankan segala rutinitas hidup yang dijalani. Cinta itu sejatinya mampu membuat hidup ini lebih berharga. Tetapi di saat seseorang menjual murah cinta yang ia miliki, maka hidupnya pun seperti tak ada harganya lagi.

Menari di atas penderitaan orang lain menunjukkan orang tersebut tak lagi memiliki rasa cinta di dalam hatinya. Terlebih menikam maupun menusuk orang yang memercayai kita menggambarkan bahwa sang pelaku kehilangan cinta kasihnya. Andai dunia mulai dipenuhi orang-orang seperti itu, maka hidup ini menjadi tak lagi indah. Yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Yang duduk di gedung-gedung pemerintahan tak lagi menghargai orang pinggiran yang terang-terang membuatnya duduk di kursi imporan itu. Kacang lupa akan kulitnya.

*******

Beberapa bulan telah berlalu dengan aku dalam kondisi menyocokkan apa yang dikatakan dua sahabatku tempo hari itu dengan realita yang tengah aku hadapi. Setelah melalui proses perenungan yang cukup lama, pada akhirnya aku menarik kesimpulan: I really love her.

Setelah meyakinkan diri bahwa aku benar-benar jatuh hati pada sosok Dewi, hidupku berangsur-angsur pulih. Meskipun tak mencapai rasio 50 %. Tak apalah aku tergila-gila karenanya. Rasanya benar-benar “ajaib”. Meskipun struktur hidupku dibuat kacau oleh perasaan itu, aku menikmati rutinitas yang baru aku tambahkan: melamunkan sosoknya. Rasanya tak ingin cepat-cepat aku “mendarat”, dan ingin terus terbang tinggi bersama khayalanku. Dan tak jarang aku senyum-senyum tak jelas di kala teringat permusuhan kami semasa SD dulu.

Walau kini tahu apa yang terjadi pada diriku, aku tak mau terlampau gila menjatuhkan hatiku padanya. Karena aku tahu pasti akan sakit rasanya bila kenyataannya berkata lain. Aku lebih memilih menyimpan rapat-rapat perasaanku padanya itu. Aku lebih memilih bersikap seperti sebelum aku merasakan keanehan dalam diriku, menjalani hidup sebagai pelajar SMP.

Pada awalnya aku sanggup melakukan semuanya itu. Namun lambat laun langkahku semakin berat untuk aku bawa masuk ke dalam kelas. Otakku kian terbebani gambar dirinya yang terekam dalam benak. Dadaku terasa kian hari kian tersesakkan oleh perasaan itu. Aku butuh bantuan.

Maka aku putuskan untuk bercerita kepada para sahabatku. Pada siang hari aku berbagi cerita kepada Tikitik dan Ulul, dan di malam harinya waktu untukku berbagi cerita kepada Tursi dan Hani. Ternyata keputusanku untuk berbagi kepada mereka sangat tepat. Berbagai dukungan dan masukan serta bantuan aku dapatkan dari mereka. Mereka benar-benar sahabat yang sangat responsif dan berempati.

“Kalau kamu butuh bantuan, bilang ke aku ae, Kri,” kata Hani.

“Sobatku sing kribo, lek awakmu pengen ero yha apa perasaane dhe’e ke awakmu, ndang ditembak lho. Nunggu apa maneh lho, Kri (Sobatku yang kribo, kalo kmau pengen tahu gimana perasaaanya di ke kamu, buruan ditembak lho. Nunggu apa lagi lho, Kri) ?” Tursi mulai mendesakku. Kemudian ia mengerlingkan mata.

Ulul dengan sedikit berpuitis memberiku saran yang tak jauh berbeda dari Tursi, “Nah, tunggu apa lagi, Kri? Lek awakmu laki-laki, buktikan lek awakmu benar-benar suka ama dia! Tembak dengan keindahan yang kau punya, teman (Nah, tunggu apa lagi, Kri? Kalo kamu laki-laki, buktikan kalo kamu benar-benar suka ama dia! Tembak dengan keindahan yang kau punya, teman) .”

“Secara peluang, awakmu punya kesempatan. Itu berdasarkan determinan yang aku dapatkan dari awakmu, Kri,” ujar Tikitik. Dalam masa seperti ini saja Tikitik masih saja melibatkan istilah-istilah dalam matematika. Benar-benar penggila matematika.

Masalah tak berhenti di situ saja buatku. Aku yang selama ini terbilang tertutup harus dihadapkan kepada kenyataan bahwa aku harus menyatakan cinta kepada Dewi. Jangankan mengutarakan perasaanku, berbicara saja banyak orang yang tak menghiraukan aku.

Hampir setiap malam aku membuat janji dengan seseorang di ruang tidurku. Dan sosok itu selalu datang setiap aku ingin menemuinya. Sosok yang kumaksud adalah refleksi diriku sendiri pada cermin di dinding kamarku.

Kami sering berdiskusi bagaimana cara yang terbaik untuk aku mengutarakan perasaanku ini. Ia tahu benar bahwa sosokku bukan termasuk ke dalam golongan orang yang sanggup berbicara panjang lebar dengan orang lain, terlebih menyampaikan hal yang seperti itu. Bisa-bisa sebelum aku mengeluarkan sepatah kata pun, hilang sudah kesadaranku di hadapan sang pujaan hati.

Aku kian dihadapkan kepada lapisan-lapisan dilema selanjutnya.


...

Sebuah Rahasia Kecil (Part 4)

...

Aku semakin merasa pertanyaanku sama sekali tak didengar oleh mereka. Aku pun bangkit dari tempatku, dan memutuskan untuk keluar dari kelas yang telah seperti ruang pesakitan. Ketika aku hendak menginjakkan kaki ke keluar kelas, Hani memanggilku.

"Aduh, rek-rek. Awakmu pancet ae, ojo ngambekan ngono tah wah (Aduh-duh. Kamu tetep aja, jangan suka ngambek gitu).”

“Iya, gak asyik, ah,” ujar Tursi dengan raut sedikit setengah cemberut.

“Wes, sinio lagi. Tak kasih tahu maksud’e sing mau. Gelem ora? (Dah, sini lagi kamu. Aku kasih tahu maksud yang tadi. Mau gak)” tanya Hani

Aku yang sebelumnya ingin keluar dari kelas, kembali ke tempat dudukku. Berharap kali ini mereka benar-benar ingin mengatakan secara gamblang. Tanpa memberitahunya dengan tersirat. Semoga saja.

“Maaf-maaf,” Hani meminta maaf atas perlakuan mereka sebelumnya. Aku pun memaafkan mereka.

Gini lho, Kri, maksudku tadi iku awakmu keliatane lagi suka ma seseorang (Gini lho, Kri, maksudku tadi itu kamu kelihatannya lagi suka sama seseorang),” Tursi berhasil meyakinkan aku bahwa mereka benar-benar ingin menceritakannya sercara lugas. Aku pun memasang posisi yang nyaman mencoba mengetahui kelanjutannya.

“Iya, mukamu iku lho keliatan berseri-seri, kayak orang sing hatine lagi jatuh cinta ngono lho (Iya, mukamu itu lho keliatan berseri-seri, kayak orang yang hatinya lagi jatuh cinta gitu lho),” Hani menimpali. Dan pernyataan yang dilontarkannya itu membuat aku seperti terenyuh.

“Hah? Apa mungkin aku suka ama seseorang? Seumur-umur aku belum pernah rasain yang orang bilang itu cinta monyet?” Aku ragu dengan apa yang dikatakan oleh Hani, karena memang benar aku belum pernah merasakan perasaan itu.

Ketika teman-teman SD mulai menjalin hubungan, meski masih dalam taraf cinta monyet, aku masih menganggap kaum hawa sebagai teman. Sama sekali tak ada ketertarikan kepada salah satu di antara mereka. Apa aku ini normal atau tidak, entahlah. Aku benar-benar menikmati masa-masa SD-ku sebagai anak tanpa cinta. Terdengar menyedihkan memang. Sekaligus memalukan. Mungkin.

*******

Semenjak kejadian di ruang kelas itu, pikiran kini dipenuhi dengan pertanyaan: Am I really love her? Tiap detik terngiang-ngiang akan apa yang dikatakan oleh Hani dan Tursi siang itu. Dan kini diriku benar-benar merasakan keanehan yang kian menjadi.

Aku memang belum merasa seperti ini. Meski sewaktu di Filipina, saat kelas 3 SD, aku sempat penasaran dengan seorang gadis teman sekelasku bernama Mia Mirasta. Gadis itu keturunan ras Tionghoa, dengan pipinya yang gembil itu membuat mukanya terlihat menggemaskan, ditambah senyum manisnya. Dan itu hanya sebatas rasa penasaran untuk mengenal sosoknya, bukan rasa yang hari ini menyesakkan dada. Sayangnya sewaktu itu aku belum punya keberanian untuk mendekatinya, dan lebih memilih bersahabat dengan Wilfren dan Ronello. Dan keadaanku kali ini benar-benar membuat aku tak seperti diriku yang biasanya.

Sebelumnya aku yang sering menulis puisi-puisi tentang indahnya persahabatan, sedikit demi sedikit beralih ke puisi beraroma roman picisan. Seluruh apa yang kini kurasakan aku coba tuangkan ke dalam sebuah puisi yang sama sekali tidak ada nilainya; hanya beruba rangkaian beberapa baris kalimat sehari-hari.

*******

Mengapa ada air mata yang siap terteteskan di balik setiap tawa?


***