Jumat, 13 April 2012

SUPERNOVA Kembali Hadir





Depok - Masih ingat dengan novel SUPERNOVA karya Dewi "DEE" Lestari 8 tahun silam? Supernova pertama kali diluncurkan pada tanggal 16 Februari 2001 dengan episode Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ).  Novel yang memadukan antara cerita cinta dan beberapa istilah sains tersebut laku terjual 12.000 eksemplar hanya dalam tempo 35 hari, dan terjual sampai kurang lebih 75.00 eksemplar. Supernova pun pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. 


Setelah sukses dengan novel pertamanya, pada 16 Oktober 2002 Dee meluncurkan  Supernova: Akar. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu, dikarenakan pada kover depannya terdapat OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU. Maka pada cetakan kedua dan seterusnya, logo tersebut tidak dipakai lagi pada kovernya.


Melalui kiprah kepenullisannya, Dee juga dianugerahi A Playful Mind Award (2003), dan dinobatkan menjadi salah satu Generasi Biang Extra Joss (2004). 


Pada bulan Januari 2005, DEE merilis novel ketiganya, Supernova: Petir. Kisah pada novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru ke dalamnya. Salah satunya Elektra yang menjadi tokoh sentral.


Lama tak muncul, pada tanggal 13 April 2012 tepat pada pukul 04.44 sore Supernova: Partikel "dilahirkan" ke bumi. Dengan 'kelahiran' Partikel, maka total jumlah buku yang pernah diterbitkan oleh Dee berjumlah 8 buah. Tapi, mengapa harus jam 04.44 ya?
"Karena ini Supernova 4, jadi kita merayakannya dengan serba 4," jelas Dee (dikutip dari mizan.com)


Gaung menyambut 'kelahiran' Partikel memang semakin kencang terdengar di media online, Facebook dan Twitter. Dari grup Facebook Pembaca Buku Bentang, aku mendapatkan beberapa kali pemberitahuan seputar "kelahiran"-nya, seperti pre-order Partikel hingga lomba twipic bersama Alien (salah satu tokoh baru di dalamnya) untuk memperebutkan kaos eksklusif PARTIKEL di beberapa toko buku.


Apabila dilihat secara seksama, pada kover Supernova cetakan terbaru, terdapat simbol-simbol yang berbeda-beda. Jauh lebih sederhana, dan berkesan eksklusif dibandingkan cetakan yang lamanya. Tapi apa ya makna keempat simbol tersebut? Sejauh ini, yang bisa aku tangkap pada Partikel yakni simbol dari planet bumi, dan pada KPBJ terdapat gambar sebuah sarang laba-laba. Untuk lebih jelasnya, silahkan menyaksikan penjelasan Dee pada video berikut ini:



Sebelum mengakhiri, aku ingin berpesan," Dapatkan segera, dan jangan sampai kehabisan ya!" Sekian dan terimakasih banyak atas perhatiannya.

Sabtu, 07 April 2012

Mereka Ada di Sekitar Kita


Hidup ini dibangun dari mimpi-mimpi para pemimpi yang tak henti-hentinya mewujudkan apa yang telah diimpikan. Sesulit apapun rintangan yang mereka temui dalam meraihnya, takkan menggentarkan tekad bulat mereka. Bertahun-tahun mereka mencoba memerbaiki hidup, dengan membanting tulang siang dan malam tanpa kenal lelah. Tubuh mereka jauh berbeda dari manusia-manusia yang selama ini aku saksikan. Pakaian mereka lusuh, dan rambut tak karuan wujudnya. Badannya pun penuh bekas luka, seperti hatinya yang terluka karena nasib mengantarkan mereka ke keadaan seperti itu. Hidup mereka seakan tak pernah ada waktu untuk berhenti sejenak meski hanya sekedar untuk mengambil nafas. Meski dengan kondisi yang seperti itu, sorot mata mereka tajam seakan-akan memandang jauh ke depan, senyum mereka berasal dari hati meski terkadang tampak dipaksakan, dan mimpi membuat mereka tetap berjuang di medan hidup yang sulit.

Rega Seliha tampak anggun di antara anak-anak kecil yang sedari mengelilinginya. Senyum gadis berkulit khas gadis sunda itu pun melengkapi paras parahyangan yang ia miliki. Dengan sabar dan ikhlas ia rela menggantungkan gelar sarjana yang ia dapat, dan lebih memilih membaktikan diri untuk anak-anak kecil itu. Ia memberi pelajaran akademik dan non-akademik kepada mereka. Ia berharap anak-anak kecil tersebut suatu hari nanti mampu menjadi generasi perubah dunia.

Anak-anak kecil tersebut tampak senang dengan kehadiran ‘malaikat’ tersebut. Antusiasme mereka dalam mempelajari sesuatu yang baru tak terhalangi oleh keadaan. Mereka semua ingin melepaskan diri dari jeratan hidup yang memenjarakan jiwa sejak mereka dilahirkan ke dunia. Liha tak mau semangat yang mereka miliki itu menguap begitu saja, maka setiap akhir pekan ia datang kemari mulai dari pukul 08.00 hingga 16.00. Liha menikmati rutinitasnya yang seperti itu. Tak pernah ia menyesal atas apa yang telah ia pilih. Baginya, masa depan anak-anak tersebut jauh lebih berharga dibandingkan dengan gelar sarjana yang selama 7 tahun ia perjuangkan di bangku kuliah. Apalah arti sebuah gelar yang disandang seseorang jika tak mampu membuat orang tersebut berguna bagi orang-orang di sekitarnya; itulah visi yang ia miliki.