Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juni 2013

Aku dan Endah N Rhesa

Mungkin ada yang belum tahu arti dari Cak RaSa dan bertanya siapa nama yang tertera pada akte kelahiranku. Baiklah, ada baiknya ---daripada menceritakan kisah perjalanan hidupku--- untuk memerkenalkan secara singkat siapa aku. Nama lengkapku Radik Sahaja dan sekarang aku menjadi mahasiswa semester 6 jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual) di Universitas Paramadina. Aku tinggal di Mampang, Pancoranmas - Depok. Sejak SMA aku menyukai aliran musik yang terbilang "menyimpang", seperti Reggae, SKA, dan Dancehall. Alhasil, sejak semester 3, aku mulai mengenal beberapa nama musisi indie di Indonesia. Aku mulai mengenal nama Endah N Rhesa dari sebuah majalah remaja yang mengulas tentang album Nowhere to Go.



ddd

Kamis, 07 Juni 2012

Berharap Bisa Menjadi Penulis Remaja

Ah, hidup ini indah bagi siapa yang mensyukuri apapun yang diterimanya, dan tak pernah mengeluhkannya. Aku percaya hal itu. Dalam kesempatan kali ini, aku ingin bercerita sedikit tentang salah satu misiku untuk liburan semester tahun ini. Aku ingin mencoba menjadi cerpen Sebuah Nisan menjadi naskah sebuah novel yang judulnya Hidup ini Seperti Puisi. Hidup ini Seperti Puisi menceritakan tentang ikatan persahabatan yang kuat antara Kribo dan sahabat-sahabatnya. Mereka rela berbagi segalanya bersama, bahkan meski harus rela berbasahkuyup demi menggapai impian kelompok mereka. Diceritakan pula bagaimana seorang minoritas yang pada akhirnya kembali ke dalam golongan mayoritas. Kiranya beginilah kover novel yang telah aku bikin.



Dan target selanjutnya yakni Sebuah Rahasia Kecil, dikembangkan berdasarkan cerpen dengan judul yang sama. Sebuah Rahasia Kecil menceritakan bagaimana menjalani hidup ini dengan keberbedaan yang ada tanpa memaksakan persepsi suatu golongan. Dikarenakan persepsi dan faham dogmatis suatu golongan tersebut yang diceritakan di sini mengakibatkan tempat bergantungnya mimpi-mimpi Rega Seliha dihancurkan secara paksa dan dibakar hingga hanya tersisa puing-puing dan abu. Beginilah kiranya kover novel yang telah aku rancang. Sebuah cinta yang menerangi dunia itulah yang aku ambil dan masukkan ke dalam garis besar cerita ini.



Jadi aku harap kedua proyek ini bisa segera diselesaikan dan mampu diterima penerbit sekelas Bentang Pustaka. Semoga saja. Aamiin.

Sabtu, 05 Mei 2012

Sederet Mimpi Kecilku

Hidup memang berawal dari sebuah mimpi dan angan-angan. Di kala kita menginginkan sesuatu, namun kita belum mampu mendapatkannya, pasti kita akan memimpikannya hari demi hari. Dan berusaha sebisa mungkin untuk meraihnya. Seperti itulah ambisi mimpi yang kemudian merubahnya menjadi impian dan harapan dalam hidup.

Dan aku sedari kecil memiliki beberapa mimpi dan mungkin apabila dipikir secara akal sehat manusia normal sama sekali tak realistis. Terlalu mustahil untuk dijadikan sebuah kenyataan. Namun, aku tak peduli apa kata orang tentang mimpi-mimpiku. Aku akan berusaha sebisa mungkin, dan berdoa kepada Tuhan, agar bisa mencapainya.

Karena blog ini memiliki tagline "Hidup Penuh Cerita-Berita yang Bisa Dibagi"; maka dari itu saya menuliskan beberapa mimpi, angan, dan juga impianku. Berikut ini daftarnya.

.: Pendidikan
1. Lulus SD, SMP, dan SMA sesuai waktunya (alhamdulillah telah tercapai)
2. Lulus dengan nilai memuaskan (IPK minimal 3,5) dan tepat waktu
3. Dapat beasiswa ke luar negeri buat S2

.: Hobi
1. Punya kamar yang isinnya diorama Hotwheels, Lego, dan urban toys
2. Bisa "melahirkan" urban toys sendiri dan brand-nya mendunia
3. Bisa menjadi penulis yang diakui oleh masyarakat Indonesia, minimalnya (mengingat kemampuan menulis belum begitu lihai dalam berkata-kata)
4. Jadi pemain teater ternama
5. Menjadi penulis puisi untuk para remaja
6. Memiliki ruangan yang isinya perangkat-perangkat canggih pendukung kegiatan menggambar dan desain
7. Memiliki ruangan yang bernuansa reggae
8. Menjadi novelis remaja
9. Memiliki brand clothing sendiri
10. Berpetualang ke beberapa penjuru Indonesia, Asean, dan dunia

.: Karir
1. Membahagiakan kedua orang tuaku
2. Menjadi ilustrator, desainer grafis, desainer web
3. Menjadi penulis, di samping profesi sebagai desainer
4. Memiliki kantor pribadi yang cukup mendukung perkembangan karir
5. Mendapat istri yang sholehah, dan memahami aku apa adanya
6. Mendapat mertua yang menyerupai orang tua (menerima aku seperti anak kandungnya)
7. Memiliki keluarga yang hidup sederhana dan biasa-biasa saja, tetapi bahagia dan harmonis
8. Pergi haji

Dan dari seluruh mimpi serta visiku itu, yang pertama-tama ingin aku raih yakni mampu menghatamkan Al Qur'an serta mengamalkannya di kehidupan sehari-hari, memenuhi panggilan "5 waktu" tepat waktu. Aamiin

Senin, 30 Agustus 2010

Sambutan dari Cak RaSa

Pertama-tama, Cak RaSa ingin berterimakasih kepada: ALLAH S.W.T.; the beloved prophet MUHAMMAD S.A.W.; yg telah menurunkan agama yg benar-benar bawa kebenaran, ISLAM. Kedua orangtua yg telah mendidik, merawat & membesarkan serta menyayangi diriku sebagai anaknya. Adikku, yg terus bawa ku rasa kesenangan menjadi kakak dari adik sepertinya.


Cak RaSa (panggil saja namaku seperti itu), dibesarkan - disayangi dari keluarga yg paling luar biasa di dunia. Mereka tak pernah berhenti mencoba memenuhi segala kebutuhan hidupku. Cak RaSa lahir di bumi yg fana ini, pada tanggal 11 Oktober 1991 di Surabaya. Dengan beberapa hobinya, ngedit-ngedit simpel foto-foto yang ada di komputernya, dengerin musik (terutama reggae dan SKA), baca novel, maos koran, bikin ”Rangkaian Bahasa Perasaan”, OnLine, juga ngegambar, RaSa ingin menunjukkan pada dunia siapalah orang biasa ini.


Pada awalnya, Cak RaSa bersekolah di TK Lestari yg tak jauh dari rumah di jalan Wiguna Tengah 8 no. 25. Diajar oleh tiga serangkai guru yang terteguh (maaf, saya telah lupa nama mereka). Kemudian setelah tamat TK, masuk ke level 3 di SDN MADU 615. Bertemu guru pertama bernama Bu Titik. Dan guru-guru tanpa kenal lelah (Bu Robbiah, Bu Dyah, Bu Christine, Bu Nur, Bu Us, Pak Kus, Pak Baidowi, dan Pak Fah). Serta teman-teman yang masih pada ingusan.


Kemudian melanjutkan ke level 9 di SPENGAMAS. Di sini, RaSa bertemu beberapa pengajar yang patut mendapat penghargaan pangkat pahlawan. Awalnya, RaSa diberi badge dengan kode 7F yg diwalikelasi Bu Diestrini. Di level 10, badge itu berubah kode menjadi 8C dengan komanda Pak Sam. Di level inilah, RaSa mulai merasa ketertarikan dengan cewek, mulai membangun persahabatan, pertemanan, dan mimpi2 indah. Dan di level puncak 11, badge itu kembali berkode F di belakang angka 9 dibawah komando Bu Budi.


Sayangnya RaSa tak bisa terus-terusan merasakan kehidupan Surabaya. Di level 12, RaSa harus mengayuh jauh ke Cianjur. Disini, RaSa terdaftar sebagai anggota SMANSAKU. Kode verifikasi pertama adalah X-8. Kemudian XI & XII IPA 2. RaSa mulai lebih mengenal arti hidup dan arti perjuangan. Daftar Orvinsta makin memanjang. Dan daftar ”sejarah cinta” mulai mengukir di atas air mata dan tawa.


Sekarang RaSa berhasil masuk ke Universitas Paramadina dengan jurusan Desain Komunikasi Visual.

Sabtu, 03 April 2010

Biografiku

Radik Sahaja, lahir di Surabaya - Jawa Timur, 11 Oktober 1991, dari pasangan Priyoko dan Ine Indrati Sigit. Bapak Radik berprofesi sebagai wartawan, sedangkan Ibu Radik bekerja sebagai P.N.S di DepKes. Mulai dari bayi sampai awal tahun 1994, keluarga Radik tinggal di rumah di daerah Bratang Binangun, bersama nenek-kakek dari ibu. Karena kedua orang tua bekerja, Radik dititipkan di Tempat Penitipan anak setiap pagi sampai sore. Pada tanggal 15 Agustus 1994, Radik mendapatkan adik laki yang diberi nama Daya Hatta. Pada awal tahun 1995 sampai akhir 1995, mendiami rumah di daerah Baratajaya No. 18.

Akhir Desember 1995, Radik bersama bapak, ibu dan adik, pindah rumah ke perumahan Wisma Gunung Anyar (Wiguna) – Rungkut, dan menempati sebuah rumah sederhana di JL. Wiguna Tengah VIII/25. Pada umur 5 tahun, mulai masuk ke TK Lestari. Setelah lulus dari tingkat nol besar, Radik melanjutkan sekolah di SDN Medokan Ayu II (MA II).

Pada Mei 1999, Radik berpisah dengan orang tua, karena Ibu Radik harus sekolah di Philipines. Selama mereka di Philipines, nenek-kakek menemani Radik di rumah Wiguna. Namun, karena tak kuat lama-lama berpisah dengan anak-anaknya, ibu menyuruh bapak untuk menjemput Radik dan Daya untuk menyusul ke Philipines. Oleh karena itu, pada bulan November, terpaksa sekolah Radik harus berhenti di tengah jalan di tingkat kelas III, dan melanjutkannya di sana.

Di Philipines, kami berempat tinggal di perumahan milik Mr. Palad, di Ruby Street, Los Bannos. Orang tua tak mau Radik dan Daya tak sekolah, maka dari itu kami berdua di masukkan ke sebuah sekolah yang bernama Holly Angel School. Tapi kami berdua harus sekolah di tingkat yang sama seperti di Indonesia agar menyesuaikan keadaan. Waktu tak terasa oleh Radik karena kehangatan orang Philipines membuat Radik betah di sana. Radikpun punya beberapa teman disana, antara lain Daren, Dairil, Widia, Abu, Ronello, Jessica, Ruzzel, & Mia. Di akhir Oktober 2000, masa sekolah Ibu Radik berakhir, dan kami harus kembali ke Indonesia. Dari Philipines, kami menuju Bandara Ngurah Rai – Bali untuk liburan.


Setelah liburan beberapa hari di Bali, Radik sekeluarga kembali ke Surabaya. Kehidupan Radik kembali menjadi orang Indonesia lagi. Radik kembali bersekolah di SD yang sama untuk kedua kalinya. Tapi, lagi-lagi Radik terpaksa harus kembali ke kelas III Mengulang setahun lagi, bukan karena tidak naik, tapi dikarenakan surat perjanjian dengan kepala sekolah, Bapak Karomen, yang dibuat sebelum Radik pindah ke Philipines.

Waktu terus berputar maju, tahunpun terus bergerak ke depan. III tahun kemudian, Radik berhasil mencapai tingkat kelas VI tanpa ada masalah yang berarti. Di kelas VI, Radik menemukan guru yang paling berpengaruh dalam hidup Radik, yaitu Pak Mustofah atau yang akrab dipanggil Pak Fah. Di akhir kelas VI, Radik diselimuti rasa was-was karena akan menghadapi UAN. Tapi alhamdulillah, berhasil lulus dengan nilai yang lumayan bagus.

Setelah lulus dari SDN MA II, Radik melanjutkan pendidikan ke SMPN 35. Di tingkatan pertama Radik menempati ruang kelas 7F, yang diwali-kelasi oleh Ibu Rr. Diestrini (Bu Rini). Kemudian di tingkatan kedua, pindah ke ruang kelas 8C, diwali-kelasi oleh bapak Samali (Pak Sam). Pada tingkatan kedua ini, Radik mulai mengenal apa itu cinta. Radik mulai tertarik dengan seorang gadis bernama Dewi Permata Sari, tapi ia menolak Radik, dan akhirnya menjadi sahabat sampai sekarang. Selain mengenal rasa tertarik dengan lawan jenis, Radik menjalin persahabatan dengan Dyah Tursina, Atika Nazarah Husna, Sri Handayani, Nurul Aini, Rizki Amin Yasir dan Rizal Aditama. Belum lagi di tingkatan ke-8, menjadi puncak kenakalan semasa SMP. Pergaulan Radik pun mulai menginjak dunia maya. Radik diajak teman untuk gabung dalam situs pertemanan, Friendster. Radik mulai menggunakan nama samaran Rasa, yang merupakan singkatan dari nama lengkapnya. Dari situ Radik mulai tertarik dengan musik Reggae, karena tertarik akan warna simbol Reggae (merah-kuning-hijau) yang indah. Kemudian, di tingkatan terakhir, Radik menempati ruang kelas 9F, wali kelasnya adalah Ibu Budi Sutjiningati (Bu Budi). Di tingkatan ini, Radik mulai lebih belajar bersikap dewasa dari sebelumnya. Karena Radik harus mengurangi kenakalan, dan harus lebih banyak belajar lagi untuk menghadapi UAN.

Hampir setiap sore dan malam dalam seminggu, Radik berjuang guna memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Di sore hari, Radik harus bersepeda motor ke tempat kursusan, Ipiems dan kediaman Pak Hardio. Dan malam harinya, harus belajar dengan guru privat, yang bernama Pak Yayan. Dan tak lupa juga tentunya, setiap saat Radik mendirikan sholat dan bertawakal kepada Allah SWT. Alhamdulillah, berkat perjuangan itu Radik berhasil melewati UAN dengan lancar.
Acara refreshing setelah penat menghadapi UAN diadakan oleh pihak sekolah dengan tempat tujuan Pulau Dewata, selama 3 hari 3 malam. Di Bali, Radik benar-benar ingin menghabiskan setiap waktu untuk dekat dengan sahabat-sahabat. Tapi sayang, Dyah tidak bisa ikut serta.

Setelah seminggu setelah itu, tanggal pengumuman kelulusan tiba. Rasa deg-degan mulai meletup-letup lagi. Tapi alhamdulillah, Radik berhasil lulus. Walaupun nilai keseluruhannya meleset dari target.

Tapi, sepertinya Radik tidak bisa meneruskan sekolah lagi di Surabaya. Karena ibu harus pindah kerja ke kantor DepKes di Jakarta. Hal itu membuat Radik harus mengenang segala kejadian yang dijalani di Kota Pahlawanku.

Masalah belum berhenti di situ. Karena orang tua belum memiliki rumah di daerah Jakarta, Radik dan Daya dititipkan di rumah nenek-kakek di Cianjur. Radik dititipkan di rumah nenek-kakek sejak tanggal 30 Juni 2007 sampai sekarang. Sedangkan Daya, harus pindah ke Pondok Al Ihya di Bogor mulai dari kenaikan kelas 2 SMP yang lalu. Awalnya, Radik tak suka tinggal di Cianjur, tapi lama-lama terbiasa juga.

Di Cianjur, Radik melanjutkan pendidikan ke SMAN 1 Cilaku – Cianjur. Pada awal masuk, Radik menempati ruang kelas X-8 yang diwali kelasi oleh Bapak Ahmad Suryana. Berbeda bahasa lagi-lagi menjadi kendala dalam besosialisasi. Pada awalnya, Radik sering dijadikan mainan oleh anak-anak yang jahil, salah satunya Tri Parjoko. Tapi berkat beberapa sahabat (Euis Novita, Resi Alviani, Nita Noviawati, Tea Lestari, Agus Hidayatullah, Ibnu Malik, & Faturochman), Radik mulai mengerti sedikit tentang bagaimana kehidupan di Cianjur. Radik juga mengikuti ekskul T.I (Arlogy) dari semseter 1 dan Gempala di semester 2. Tapi pada tengah semester 2, Radik keluar dari keanggotaan Gempala.

Di bidang akademi, untuk pertama kalinya, Radik berhasil masuk 10 besar pada semester I, peringkat ke-7 di kelas. Dan meningkat menjadi peringkat ke-2 pada semester II. Kemudian Radik melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu kelas XI. Radik memilih jurusan IPA, karena diarahkan orang tua agar bisa membuka jalan untuk Radik mencapai cita-cita menjadi seorang designer grafis.

Di kelas XI, Radik terdaftar sebagai murid kelas XI IPA 2. Tapi, Radik mengalami kemunduran dalam hasil belajar. Radik jauh jatuh menempati peringkat ke-8 dari 42 murid.

Di bidang non-akademi, Radik dipilih menjadi wakil ketua Arlogy. Selain itu, untuk menyalurkan hobi dan mengembangkan bakat, Radik mendaftar menjadi anggota Assast. Pada saat reorganisasi, Radik ditunjuk untuk menjabat sebagai Seksi Seni Rupa bersama Ginanjar.

Sama seperti sebelumnya, di kelas XI Radik juga menjalin persahabatan dengan beberapa orang, yaitu Sinta Sepitana Fauziah, Nevi Yulianti, Nur Amalina F., Woro Sekar Ayu, dan Nurul Amanah Ambar. Selain itu, Radik juga memiliki SauMay (Saudara Maya) Isminur Putri (Puput, dari Tulungagung), Fitri Rahmawati (Fitri, dari Sukabumi), dan Puspa (Pupaa dari ) serta Defita Ade Aprelia (Kadek, dari Bali). Sayang, kini Radik tak lagi bisa berhubungan dengan Kadek, karena terjadi kesalah pahaman diantara Radik-Kadek.

Dan sekarang, Radik telah berada di puncak level terakhir dari masa SMA. Radik menjadi bagian dari kelas XII IPA 2. Namun semenjak kian merasakan ketidaknyamanan berlama-lama berada di kelas, dikarenakan lingkungan yang dirasakan kurang bersahabat, Radik berkelana ke kelas orang lain. Dan Radik menemukan kelas XII IPA 4 yang dirasakan memiliki separuh jiwanya yang pergi. Di kelas XII IPA 4, Radik mendapatkan beberapa teman dekat selain Nurul Amanah Ambar; ada yang bernama Listia W. S., Ernis, Dyah A., Nisa, Yeti, dan Rika D.

Perkembangan di dunia mayapun Radik berkembang lumayan pesat. Radik mulai berani menjamah social networking selain facebook. Dan untuk facebook, Radik sudah mengantongi teman lebih dari 2.000. Memang bukan hal yang baru untuk dibanggain, karena Radik yakin teman-teman pasti lebih banyak teman facebook-nya. Untuk dunia Per-Saumay-an, Radik memiliki 'mainan' baru bernama Onih alias Cantika.

Setelah beres UN tahun 2010, Radik menghadapi banyak sekali ujian, ada ujian praktik, ulangan akhir sekolah, dan belum lagi SIMAK yang akan diikuti pada tanggal 11 April 2010 nanti. Dan meskipun hasilnya tak lolos seleksi SIMAK tahun ini, aku bahagia karena bisa diterima di Universitas Paramadina dengan jurusan yang aku inginkan, Desain Komunikasi Visual. Dan sekarang telah memasuki semester 2 yang cukup menantang dibandingkan dengan semester sebelumnya. Yang cukup menantang dan harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengejar target IP minimal 3,5, dikarenakan sebelumnya hanya memperoleh IP 3,3.

Masalah percintaan, sampai hari ini, Radik baru satu kali menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis berinisial "E.P.S". Tapi itupun hanya berjalan selama 1 minggu. Karena ada ketidakcocokan yang membuat Radik kecewa berat pada E.P.S. Dan semenjak itu, Radik kurang berani membuka diri untuk berjuang mendapatkan orang yang Radik kagumi. Tapi bukan berarti Radik menjadi penyuka sejenis.