Senin, 23 Januari 2012

Sebuah Rahasia Kecil (Part 3)

Aku tak tahu sejak kapan perubahan ini mendekam dalam diriku. Semua terjadi begitu saja, seperti angin yang menyusup lewat pori-pori kulitku.

Dan dari analisa dua sahabatku, Tursina dan Hani, aku terkena sindrom asmara.

“Wah, kamu keto’e kene’ sindrom sing akut iki, Kri,” Tursi dengan matanya yang mengeluarkan kesan ganjil membuat aku makin tak mengerti apa yang tengah terjadi padaku. “Iya, Kri. Awakmu kayake tengah terkena penyakit sing durung isa ditebak kapan akan menghilang. Mungkin seumur hidupmu ora bakalan isa ilang dari dalam awakmu iku,” Hani menimpali pernyataan Tursi sebelumnya. Dan itu makin membuat aku terjatuh lebih dalam dalam sebuah kotak yang berhiaskan jutaan tanda tanya.

“Kalian iki ngomong apa sih?” Aku yang sedari tadi hanya mendengar ocehan mereka, mulai angkat bicara. “Aku gak ngerti sama sekalian maksud ucapan kalian?”

“Hadeh..” Tursi menghela nafas sejenak, “Awakmu iku jago bikin puisi, tapi gak isa nangkap maksud yang tersirat dari kata-kata kami seh, gak paham juga tah?”

Kotak yang penuh dengan jutaan tanda tanya tadi semakin mendalam. Aku kian dibingungkan dengan ucapan Tursi itu. Aku pun memeras lebih keras otakku. Berharap mampu membaca pesan yang tersiratkan. Tapi hasilnya tetap nihil. Tak bisa aku temukan pesan tersembunyi itu.

“Udah, rek. Kok tiba-tiba kalian jadi puitis ngene , rek? Pengen ngedoktrinin aku ben tambah jago bikin puisinya, ya? Emang aku akui, puisi masih belum bisa makai majas atau kata-kata indah layaknya para pujangga. Tapi, masa aku dalam kehidupan sehari-hari musti menghadapi orang-orang yang menyiratkan sesuatu lewat yang tersurat, sih?”

Hani berdecak heran dengan ucapanku itu.

“Nguomong apa sih awakmu, Kri? Ora mudeng blas awakku! (Ngomong apa sih kamu, Kri? Gak paham sama sekali aku!Ngomong apa sih kamu, Kri? Gak paham sama sekali aku!) "

“Maklum, Han, calon arek sastra iki. Bahasae susah ditangkap orang awam (Maklum, Han, calon anak sastra ini. Bahasanya susah ditangkap orang awam),” ucap Tursi.

Aku semakin merasa pertanyaanku sama sekali tak didengar oleh mereka. Aku pun bangkit dari tempatku, dan memutuskan untuk keluar dari kelas yang telah menjelma menjadi ruang pesakitan.


...

Sebuah Rahasia Kecil (Part 3)

...

Karena menurutku gambar tersebut mewakili kami berdua, sepasang sahabat. Kami akan bahu-membahu menghadapi sulitnya kehidupan, meski pada kenyataanya Ulullah yang sering membantuku keluar dari problematika hidup.

Atika atau yang aku panggil Tikitik merupakan sahabat yang bisa dibilang jauh lebih cerdas dan jago dibandingkan aku. Tak heran aku lebih banyak menanyakan pelajaran yang tak aku mengerti kepadanya. Hampir tiap malam aku menanyakan apakah adakah pe-er buat besok, hal itu dikarenakan waktu itu aku masih malas mencatat tugas-tugas yang diberikan para guru sehingga harus rela dimarahi orang tua akibat biaya telepon yang membengkak. Dan aku bersyukur memiliki sahabat seperti Tikitik. Meskipun ia sedikit kekanak-kanakan, tapi ia sahabat yang cerdas, dan selalu mendengarkan curhatanku.

Tursina Andriani, sosoknya yang pendiam itu membuat aku paling merasa nyaman saat bersamanya. Kami seperti yin dan yang dalam ilmu cina. Dengan Tursi aku sering bersurat-suratan dan saling mengirim puisi bikinan masing-masing. Dan suatu hari ia memberikan aku sebuah puisi yang tak wajar. Ia menulis sebuah puisi tentang persahabatan berjudul Sobat di atas selembar tisu yang biasa dipakai di pesta-pesta.

*******

Dalam perjalanan hidup ini cinta bisa tercipta begitu saja tanpa minta izin kepada sang pemilik hati yang hendak disinggahinya.

Cinta bisa datang kapan saja, dan kepada siapa saja yang bernafas. Dengan cinta kita bisa mengalami anomali kehidupan. Kita bisa menjadi orang yang jauh berbeda dari sebelumnya. Kita bisa menjadi orang yang lebih lemah, dan kita pun bisa menjadi orang yang lebih kuat dari biasanya. Penglihatan kita seketika menjadi buta. Kita sering kesusahan dalam membedakan mana yang benar, dan mana yang salah. Dan pikiran kita pun sering dikotori oleh bayangan sosok sang pujaan. Kita jadi sering tidak berpikiran jernih dan menganggap semua yang kita perbuat benar. Bahkan sampai ada istilah “dosa terindah” di kala seseorang tengah kasmaran. Itu semua dampak ajaib dari sebuah perasaan yang dinamakan cinta. Apabila cinta tidak disertai dengan keimanan dan pikiran sehat, maka cinta itu dapat berubah menjadi bumerang yang akan menghancurkan hidup kita nantinya.

Semua orang berhak mencintai dan dicintai. Terlepas dari benar atau salah, setiap orang berhak memiliki orientasi cintanya masing-masing. Setiap individu pun berhak memilih untuk menjadi kaum mayoritas ataupun minoritas. Tak ada satu orang pun yang berhak mencampuri urusan percintaan seseorang, meski keluarga ataupun sahabat sekalipun. Namun, kita tetap memiliki hak untuk mengingatkan seseorang apabila ia telah melampaui batas. Hanya sebatas mengingatkan, bukan untuk menghakiminya.

*******

Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, persahabatan bisa bermula dari sesuatu di luar pertemanan. Dan aku pun pernah mengalaminya.

Mungkin terdengar gila, tapi inilah realita yang ada. Aku memiliki seorang sahabat bernama Dewi Permata Sari, yang notabene “musuh” sewaktu SD. Dan secara ajaib, beberapa bulan setelah masuk SMP, ada sesuatu yang salah dalam diriku.

Aku tak tahu sejak kapan perubahan ini mendekam dalam diriku. Semua terjadi begitu saja, seperti angin yang menyusup lewat pori-pori kulitku.

...