Selasa, 18 Oktober 2011

Sebuah Nisan (Part 6)

Seturunnya di hotel, aku baru menyadari, bahwa ternyata Tursi tidak ikut dalam acara ini. Entah apa alasannya. Hal ini menyebabkan seketika aku kehilangan semangat untuk menikmati indahnya pulau para dewa. Maka, sama sekali tidak ada tempat yang benar-benar berkesan buat ku. Kecuali, tempat pusat penjualan cinderamata khas Bali.

Di sana, aku membeli sebuah kalung bermotif seperti batu marmer berwarna biru. Kalung itu aku rencanakan sebagai hadiah untuk Tursi yang, mungkin, sekarang tengah sibuk sendiri di rumahnya.

Tak sabar rasanya untuk segera memberikannya padanya. Aku pun tak dapat membayangkan bagaimana reaksinya saat kuberikan kalung itu.

*******

Hari ini adalah hari dimana pengumuman kelulusan ujian akhir nasional untuk tingkat SMP. Tertera di layar ponselku tanggal 12 Juni 2007.

Alhamdulillah, 99% siswa SMPN 35 lulus dari perhelatan UAN. Hanya seorang yang terpaksa harus mengambil ujian perbaikan. Bukan karena ia tidak pandai. Bukan. Karena dari rumor yang beredar, beberapa minggu sebelum diadakannya UAN, yang bersangkutan malah sibuk berpacaran dengan salah seorang mahasiswa universitas di daerah Rungkut tersebut. Dan sekarang, Tuhan menunjukkan kuasaNya dengan memberikan hadiah yang setimpal dari apa yang telah ia lakukan.

*******

Surabaya, 30 Juni 2007...

Tak ada yang bisa aku lakukan ketika harus menerima kenyataan bahwa aku harus rela meninggalkan kota pahlawanku. Kota dimana aku menghabiskan masa tumbuh-kembangku, masa-masa aku mendapatkan arti sebuah persahabatan. Begitu banyak kenangan yang terlalu indah untuk aku tinggalkan di sini.

Pada sore harinya, aku menyempatkan diri mampir ke rumah Tursi untuk menyerahkan hadiah yang telah aku persiapkan dengan rapi sebelumnya.

“Assalammu’alaikum,” kuketuk perlahan pintu kayu tak berplitur itu.

“Wa’alaikumsalam,” suara yang sangat familiar terdengar dari dalam rumah.

Tursi pun membuka pintu rumahnya, ia tampak heran dengan dandanku yang terlihat teramat rapi dari biasanya.

“Kamu, mau pergi kemana, Dik?” Matanya masih terlihat tajam menatapku.

“Entar deh aku ceritain di dalam. Sekarang, boleh aku masuk?”

Ia pun tersadar karena telah membiarkanku berdiri lama di depan pintu.

“Eh, iya. Maaf. Silahkan masuk, Dik. Duduk dulu.”

Untuk kesekian kalinya, dan sekarang mungkin untuk yang terakhir kalinya, aku masuk ke ruang tamu ini. Tatanannya masih saja sama.

“Sebelumnya, ini ada hadiah buat kamu, Turs. Oleh-oleh dari Bali waktu itu.” Aku pun menyodorkan sekotak kecil bingkisan yang aku bawa menggunakan kresek hitam.

Ia pun langsung membuka bingkisan tersebut, yang kemudian mampu membuat matanya berbinar setelah melihat benda yang ada di dalamnya.

“Kamu suka?”

Ia hanya membalas pertanyaanku dengan sebuah anggukan.

“Makasih banyak, ya.”
Kemudian ia diam sejenak, sebelum akhirnya bertanya,” Gimana perpisahannya di Bali waktu itu? Seru gak?”

Spontan aku jawab,” Gak seru sama sekali. Kurang ada yang berkesan buatku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar