Selasa, 18 Oktober 2011

Sebuah Nisan (Part 7)

Spontan aku jawab,” Gak seru sama sekali. Kurang ada yang berkesan buatku.”

Ia pun menggodaku,” Pasti gara-gara gak ada aku, ya?”

Kami berdua pun tertawa kecil. Namun, semua berhenti ketika aku menceritakan niatku kemari untuk berpamitan padanya. Ia tampak sedih mendengar kabar kepergianku yang terkesan mendadak. Aku pun merasa ada yang mengenyuh hatiku. Aku tak sanggup berlama-lama di ruangan yang suasananya berubah mengharukan ini.

*******

Cianjur, 10 Juli 2010...

Aku melanjutkan pendidikanku di salah satu Sekolah Menengah Atas di kecamatan Cilaku.

Pada awalnya, aku tak betah tinggal di tempat yang berbeda 1800 latar budayanya. Menganggap aku yang keturunan orang Jawa sebagai ancaman baru di tanah Parahyangan tersebut. Seperti masih terpengaruh dengan sejarah kelam.

Tapi, aku mencoba mendalami struktur dari budaya dan perilaku apa saja yang biasa dilakukan oleh orang sana. Lambat laun pun aku terbiasa mengikuti arus kehidupan di sana.

Tanpa terasa tiga tahun sudah aku lalui di sini. Hidup di antara orang-orang yang berbeda suku, budaya, dan perilaku. Aku telah membuktikan bahwa perbedaan latar belakang takkan menjadi masalah apabila kita mengikuti seluruh norma-norma yang berlaku pada tempat tersebut. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Kini aku telah resmi lulus dari tingkat pendidikan SMA, walaupun dengan nilai yang sedikit jauh dari yang dicitakan. Senang rasanya berhasil menyelesaikan seluruh pendidikan tingkat sekolah. Sudah saatnya memersiapkan diri menjadi seorang mahasiswa.Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada pakaian yang seragam.

Aku jadi teringat akan bagaimana kondisi Tursi yang sudah lama tak kuketahui kabarnya. Terakhir kali ber-SMS yaitu ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu ia mengatakan telah tinggal di Jombang, dan tengah berpacaran dengan cowok bernama Giar Aris Pratama, Aris panggilan akrabnya. Setelah itu aku benar-benar hilang kontak dengannya.

*******

Di saat aku berkunjung ke Surabaya, pada waktu lebaran tahun 2010 lalu, aku menyempatkan diri mengunjungi sahabat lama yang telah lama tak saling sapa. Ingin mengetahui bagaimanakah keadaannya.

Kali ini, ada suasana berbeda yang kutangkap dari rumah sahabatku ini. Suasana tampak sunyi, tanpa adanya getaran-getaran yang biasa aku rasakan. Sungguh berbeda sekali. Firasatku pun mulai tak beraturan membawaku berandai-andai. Semoga saja itu hanyalah perasaaan cemas yang terlalu.

“Assalammu’alaikum.”

Terdengar suara wanita menjawab,“ Wa’alaikumsalam.”

Ibu Tursi yang membukakan pintu untukku, kontan beliau kaget melihat sosokku yang telah lama tak berkunjung ke rumahnya. Beliau memersilahkan aku untuk masuk ke ruang tamunya.

Aku langsung bisa melihat sedikit perubahan yang terjadi di ruangan ini. Perubahan yang paling kentara ada pada dinding sebelah selatan ruang tamu. Sebuah foto Tursi berukuran cukup besar terpampang di bawah foto satu keluarga yang masih kuat terpasang di dinding ruang tamu. Pada foto itu, Tursi terlihat jauh berbeda dari tiga tahun silam. Ia terlihat lebih cantik dengan wajah mirip seperti artis Korea, dan senyum manis khasnya yang tergurat dari bibir tipis merah jambunya.

Beliau terlihat terisak pelan ketika hendak mengutarakan sesuatu yang sepertinya sudah lama dipendam sebelumnya. Aku penasaran dengan apa yang ingin beliau ungkapkan kepadaku.

“Kenapa tante? Apa yang sebenarnya ingin tante beri tahu ke saya?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar